Dalam setiap lembar waktu yang terukir, Guru berdiri di pangkal jalan, menunjuk arah dengan sabar, meski kadang langkah murid terhuyung, ragu, atau bahkan berbalik.
Maka di ruang-ruang kelas yang sempit, atau di bawah pohon rindang di lapangan, terjadi dialog bisu yang hebat: saling memberi, saling mengoreksi, saling membebaskan. guru dan murid
Maka hormatilah guru, tapi jangan pernah menjadikannya patung. Sayangilah murid, tapi jangan pernah membatasinya dengan tembok kasih. Dalam setiap lembar waktu yang terukir, Guru berdiri
Guru bukan hanya pemberi rumus, bukan sekadar penjaga papan hitam. Guru adalah sungai yang mengalir tenang, mengisi cekungan-cekungan kosong di kepala yang masih haus akan makna. Dalam setiap lembar waktu yang terukir